Bom Kampung Melayu, Lokasi, dan Pesan Antikemajemukan

Jakarta, 28 Mei 2017 -Bom yang meledak di Kampung Melayu, Jakarta Timur, sebagai aksi bunuh diri untuk tujuan-tujuan tertentu telah memporak-porandakan semuanya.
Tidak hanya membuat hancur hati seluruh keluarga yang menjadi korban bom, namun, yang lebih menyedihkan, peristiwa kekerasan itu merapuhkan tenunan kemajemukan 


bangsa ini.
Beberapa ratus meter dari titik lokasi bom yang meledak di halte bus transjakarta di Kampung Melayu, adalah salah satu wilayah paling berbineka di seantero Jakarta, yakni kawasan Bali Mester.
Sejarah Kampung Bali Mester adalah sebuah narasi besar tentang pluralitas, dalam konteks pemukim, budaya, dan keyakinan dengan teritori utamanya di kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.
Mester diambil dari nama Meester (tuan) Cornelis. Catatan harian VOC (Dagregister) pada 13 Desember 1656 menyebut Meester Cornelis seorang penginjil dari Pulau Banda yang telah membeli tanah di wilayah Jatinegara.
Semenjak itu, keberagaman mewarnai lebih marak. Akulturasi terjadi dari penduduk lama pendatang asli dari Bali, etnik Tionghoa yang memusatkan diri di aktivitas perdagangan, kemudian etnik Jawa dan Betawi yang mendiami wilayah ini menyusul dari generasi ke generasi.
Kampung Bali Mester adalah kampung Bali tua yang bersamaan hadirnya dengan pemukim etnik Bali di kampung Tambora, Jakarta Barat. Sejak Ratusan tahun lalu orang-orang Bali memang mendiami wilayah ini, jauh sebelum ada kota Batavia.

Komentar